Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Gagal Jantung

Pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan gagal jantung - Blog Dokter Amud.
Pengertian Gagal Jantung
Definisi gagal jantung adalah suatu kondisi dimana jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh sebagaimana yang diperlukan. Hal ini ditandai dengan adanya gejala berupa sesak napas, tanda retensi cairan (kongesti), dan bukti obyektif adanya kelainan struktur atau gangguan fungsi jantung.

Epidemiologi Gagal Jantung
Kondisi ini termasuk dalam salah satu penyakit terkait kardiovaskular. Berdasarkan data WHO dan CDC, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian pertama di dunia. Tahun 2015, WHO mencatat ada 17 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular dan jumlah tersebut adalah 31% dari seluruh kematian oleh berbagai sebab.

Di Indonesia sendiri, penyakit terkait kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama. Usia pasien dengan penyakit gagal jantung di Indonesia relatif lebih muda dibandingkan di benua Eropa dan Amerika, namun dengan tampilan klinis yang lebih berat.

Prevalensi kasus gagal jantung di komunitas meningkat seiring dengan meningkatnya usia yaitu berkisar 0,7% (40-45 tahun), 1,3% (55-64 tahun), dan 8,4% (75 tahun ke atas). Lebih dari 40% pasien kasus gagal jantung memiliki fraksi ejeksi lebih dari 50%. Pada usia 40 tahun, risiko terjadinya gagal jantung sekitar 21% untuk lelaki dan 20,3% pada perempuan. Jumlah penderita, mortalitas, dan morbiditas penyakit ini diperkirakan akan semakin bertambah secara progresif seiring dengan berjalannya waktu,

Pada dasarnya diagnosis gagal jantung dapat dilakukan sedini mungkin. Meski demikian, banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan saat gejala gagal jantung sudah berat dan sudah meliputi gangguan struktur atau fungsi jantung yang sudah berat.

Oleh karena itu, penting bagi dokter praktik umum untuk melakukan pendekatan diagnosis secara cermat dan sedini mungkin, terutama bila pasien memiliki berbagai faktor risiko sehingga tatalaksana non medikamentosa dan medikamentosa dapat dilakukan sejak awal. Dengan demikian, pasien pun dicegah untuk jatuh pada kondisi gagal jantung yang berat.

Diagnosis Gagal Jantung

Gagal jantung adalah sindrom atau kumpulan gejala yang kompleks sebagai akibat dari adanya kelainan struktur atau fungsi dari pengisian ventrikel atau pompa jantung. Tanda kardinalnya adalah gejala sesak napas dan kelelahan yang mengurangi kemampuan beraktivitas serta retensi cairan yang mengakibatkan terjadinya kongesti hepar, edema tungkai, hingga edema paru. Secara praktis, diagnosis gagal jantung adalah sebagai berikut:

diagnosis gagal jantung kongestif

Manifestasi dan Gejala Klinis Gagal Jantung

Berikut ini adalah manifestasi klinis gagal jantung yaitu:

Gejala klinis gagal jantung kongestif

Seorang pasien dikatakan mengalami gagal jantung bila terdapat 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor.

Klasifikasi Gagal Jantung

Berdasarkan kapasitas fungsional NYHA, gagal jantung diklasifikasikan sebagai berikut:
  • Kelas I: Tidak terdapat batasan dalam melakukan aktivitas fisik. Aktivitas sehari- hari tidak menimbulkan kelelahan, palpitasi, atau sesak nafas
  • Kelas II: Terdapat batasan aktivitas ringan. Tidak terdapat keluhan saat istirahat, namun aktivitas fisik sehari-hari menimbulkan kelelahan, palpitasi, atau sesak napas.
  • Kelas III: Terdapat batasan aktivitas bermakna. Tidak terdapat keluhan saat istirahat tetapi aktivitas fisik ringan menyebabkan kelelahan, palpitasi, atau sesak.
  • Kelas IV: Tidak dapat melakukan aktivitas fisik tanpa keluhan. Terdapat gejala saat istirahat. Keluhan meningkat saat melakukan aktivitas.


Pemeriksaan Penunjang Gagal Jantung

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan pada pasien diduga gagal jantung adalah darah perifer lengkap, elektrolit, kreatinin, laju filtrasi glomerulus (GFR), glukosa darah, tes fungsi hati, dan urinalisis.

Ekokardiografi
Ekokardiografi adalah teknik pencitraan ultrasound jantung. Pengukuran fungsi ventrikel untuk membedakan antara pasien disfungsi sistolik dengan pasien dengan fungsi sistolik normal adalah fraksi ejeksi ventrikel kiri (normal >45-50%).

Diagnosis Banding Gagal Jantung

Beberapa diagnosis banding gagal jantung adalah:
  • Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, infeksi paru berat (ARDS), emboli paru
  • Penyakit ginjal: gagal ginjal kronik, sindrom nefrotik
  • Sirosis hepatik
  • Diabetes ketoasidosis


Penatalaksanaan Gagal Jantung

Tatalaksana Non Medikamentosa

Memantau berat badan
Pasien gagal jantung harus secara rutin menimbang berat badan. Bila terdapat kenaikan >2 kg dalam 3 hari maka perlu dipertimbangkan kenaikan dosis diuretik. Sebaliknya bila terdapat pengurangan berat badan, perlu pertimbangan penggunaan obat-obatan lain atau penyesuaian dosis, karena pengurangan berat badan berarti terjadi perburukan gagal jantung.

Asupan cairan
Pasien gagal jantung perlu menjalani restriksi cairan 1,5-2 liter per hari terutama pada pasien dengan gejala berat yang disertai hiponatremia. Pada pasien dengan gejala ringan atau sedang, restriksi cairan rutin tidak memberikan keuntungan klinis.

Latihan fisik
Pasien dengan gagal jantung kronik yang stabil dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik. Lakukan pembatasan beban kerja sampai 60% hingga 80% dari denyut nadi maksimal (220/umur). Sementara untuk pasien dengan gagal jantung akut, tidak dianjurkan untuk latihan fisik (tirah baring).

Modifikasi gaya hidup
Anjurkan pasien untuk berhenti merokok dan minum alkohol dan anjurkan keluarga untuk melakukan hal yang sama bila ada perokok dalam keluarga.

Pada kondisi akut, berikan terapi oksigen, pemasangan akses intravena (IV line)
Berikan oksigen 2-4 liter/menit. Pemasangan akses intravena bertujuan untuk pemberian furosemid 20 sampai dengan 40 mg bolus IV dapat diulang tiap jam sampai dosis maksimal 600 mg/hari.

Tatalaksana Medikamentosa

Strategi pengobatan gagal jantung beserta obat-obatan yang digunakan tercantum dalam tabel dan gambar berikut.

Tatalaksana Medikamentosa Gagal Jantung

Penatalaksanaan gagal jantung kongestif

Komplikasi Gagal Jantung

Komplikasi yang mungkin timbul, yaitu:
  • Syok kardiogenik.
  • Gangguan keseimbangan elektrolit.


Konseling dan Edukasi Pasien
  • Edukasi pasien tentang penyebab dan faktor risiko penyakit gagal jantung kronik, seperti tekanan darah tidak terkontrol, kadar lemak atau glukosa darah yang tidak terkontrol.
  • Pasien dan keluarga perlu diberitahu tanda kegawatan kardiovaskular, seperti sesak napas memberat, nyeri dada, serta pentingnya untuk kontrol kembali setelah pengobatan di rumah sakit
  • Edukasi mengenai kepatuhan dalam minum obat
  • Menjaga lingkungan sekitar kondusif bagi pasien untuk beraktivitas dan berinteraksi.


Kriteria rujukan
  • Pasien gagal jantung harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder yang memiliki dokter spesialis jantung atau spesialis penyakit dalam untuk perawatan maupun pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi.
  • Pada kondisi akut, dimana kondisi klinis mengalami perburukan dalam waktu cepat harus segera dirujuk layanan sekunder atau layanan tertier terdekat untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.


Prognosis Gagal Jantung

Prognosis tergantung derajat berat ringannya penyakit, adanya komorbid, dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang direncanakan.
  • ad vitam: dubia
  • ad functionam: dubia ad malam
  • ad sanactionam: dubia ad malam


Daftar Pustaka Makalah Gagal Jantung

Dumitru I. Heart Failure [Internet]. 2017 [cited 2018 Jan 17]. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/163062-overview
Centers for Disease control and Prevention. Heart Failure Fact Sheet [Internet]. 2016 [cited 2018 Jan 17]. Available from:
https://www.cdc.gov/dhdsp/data_statistics/fact_sheets/fs_heart_failure.htm
Siswanto BB, Hersunarti N, Erwinarto, Barack R, Pratikto RS, Nauli SE, et al. Pedoman Tatalaksana Gagal Jantung. Perhimpun Dr Spes Kardiovask Indones [Internet]. 2015;1. Available from:
http://www.inaheart.org/upload/file/Pedoman_TataLaksana_Gagal_Jantung_2015.pd f
World Health Organization. Cardiovascular Diseases (CVDs) [Internet]. 2017 [cited 2018 Jan 17]. Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs317/en/
Ikatan Dokter Indonesia. Gagal Jantung Akut dan Kronik. In: Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia; 2014. p. 231–4.
Yancy CW, Jessup M, Bozkurt B, Butler J, Casey DE, Drazner MH, et al. 2013 ACCF/AHA guideline for the management of heart failure: Executive summary: A report of the American college of cardiology foundation/american heart association task force on practice guidelines. J Am Coll Cardiol [Internet]. 2013;62(16):1495–539. Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.jacc.2013.05.020
Ponikowski P, Voors AA, Anker SD, Bueno H, Cleland JGF, Coats AJS, et al. 2016 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. Eur Heart J. 2016;37(27):2129–2200m.

Baca juga topik terkait untuk dokter dan tenaga medis

Penulis
Sepriani Timurtini Limbong pada https://docquity.com/

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter